What's On
The Jakarta Post - 25 Jan 2014

OJK Menetapkan Tarif Premi Baru untuk Asuransi Umum

tarif premi asuransi ojk

Jumat, 24 Jan 2014 Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkenalkan peraturan baru bagi jasa asuransi untuk meregulasi tarif premi asuransi bagi perlindungan properti dan kendaraan bermotor sehubungan dengan bencana alam, untuk mengurangi terjadinya kecurangan (ketidakadilan) dalam persaingan di pasar asuransi umum negara.

Kepala Eksekutif Pengawas Industri Non-Bank, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan bahwa peraturan baru menetapkan tarif premi maksimum dan minimum untuk perlindungan akibat kehilangan yang disebabkan oleh banjir, gempa bumi, gunung meletus dan tsunami ada di bawah pertanggung jawaban perusahaan – perusahan asurasi umum negara.

“Kami menetapkan tarif maksimum untuk melindungi pelanggan dari tarif premi asuransi yang berlebihan, sedangkan tarif minimum diperlukan agar penanggung asuransi memiliki cukup dana untuk membayar klaim asuransi.” Kata Firdaus kepada wartawan di kantornya.

Tarif minimum juga dibutuhkan untuk menjamin kompetisi yang sehat di industri, katanya.

Rencana tarif premi baru bagi kendaraan bermotor meliputi 3 zona:

  • Zona 1: Sumatra dan kepulauannya;
  • Zona 2: Jakarta, Banten dan Jawa Barat;
  • Zona 3: selain wilayah zona 1 dan 2.

Sementara itu, dari sektor properti, skema tarif baru mengelompokan properti ke dalam 120 jenis bangunan termasuk industri, komersial dan tempat tinggal, dengan perlindungan dasar dari kebakaran, petir, ledakan dan pesawat udara (FLEXA). Untuk asuransi banjir, tarif properti diklasifikasikan ke dalam 120 area berdasarkan potensi banjir masing – masing area.

“Tarif (harga) premi bergantung pada jenis dan zona properti dan kendaraan bermotor; apakah itu termasuk zona rawan banjir atau tidak. Maka dari itu susah untuk menentukan tarif maksimum dan minimum karena hal tersebut sangatlah teknis.” Kata Julian Noor, Direktur Eksekutif dari Association of General Insurance Companies (AAUI).

Beliau mengatakan bahwa asosiasi mendukung regulasi tersebut, karena hal tersebut akan menghimbau asuransi untuk menentukan premi mereka berdasarkan resiko pencegahan. Dengan adanya regulasi tersebut, asuransi tidak akan membebankan jauh di bawah tarif premi pasar, yang mana dapat menyebabkan persaingan yang tidak sehat.

Berdasarkan bencana banjir yang menenggelamkan jalan-jalan utama ibu kota pada tahun 2013, asosiasi telah menetapkan skema tarif yang tidak lagi mengklasifikasikan properti kedalam industrial, komersial maupun tempat - tempat tinggal. Tetapi, dibagi menjadi 3 kategori berdasarkan potensi resiko: rendah, sedang, atau tinggi. Setiap kategori menentukan tarif preminya.

Contoh tarif premi asuransi properti:

  • Zona 1, yaitu zona resiko rendah mencakup area – area yang tidak pernah terjadi banjir atau pernah terjadi banjir dengan kedalaman 30 cm, seperti Rawamangun, Pulogadung, Jakarta Timur. Penetapan tarifnya adalah 0.050 - 0.55 % dari harga propertinya.
  • Zona 3, yaitu zona resiko tinggi yang meilputi Pluit, Jakarta Utara telah ditetapkan sebesar tarif zona 1 ditambah dengan faktor loading. Besaran faktor loading ditentukan oleh underwriter perusahaan Asuransi umum.

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mengatakan kemudian bahwa skema telah melanggar hukum No. 5/1999 pada monopoli, karena tarif telah dibentuk dan disahkan oleh semua anggota AAUI, dan didukung oleh asosiasi.

KPPU membantah bahwa OJK, selaku regulator keuangan, seharusnya dapat menjadi institusi yang sah untuk menerbitkan skema itu, bukan AAUI.

“Tarif minimum yang ditetapkan oleh OJK jauh lebih rendah dibandingkan dengan tarif yang ditetapkan oleh asosiasi tahun lalu.” Kata Julian.

Pihak asosiasi memperkirakan bahwa anggotanya akan mendapatkan klaim yang lebih rendah untuk banjir kali ini dibandingkan dengan apa yang dibayarkan pada awal tahun 2013, ketika banjir menutupi jalan – jalan utama ibu kota seperti, jalan Sudirman, jalan MH Thamrin dan jalan HR Rasuna Said.

Berdasarkan data dari pihak asosiasi, perusahaan – perusahaan asuransi membayar klaim total yang terkait banjir sebesar Rp 638 milyar (US$52.37 juta) pada tahun yang 2013. Data tersebut sudah termasuk kurang lebih RP 600 milyar klaim properti dengan sisa klaim kendaraan bermotor. Salah satu perusahaan asuransi terbaik di Indonesia adalah Malacca Trust Insurance.

Untuk tahun 2016, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) memperkirakan jumlah pengajuan klaim asuransi akibat banjir akan menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya. Klaim asuransi bakal besar bila Jakarta, terutama di kawasan pemukiman dan perkantoran dilanda banjir.  

Ketua umum AAUI, Yasril Y. Rasyid mengungkapkan, saat ini pemerintah daerah terus membenahi infrastruktur dasar, seperti mengeruk dan memperbesar banjir kanal, sungai, waduk, membangun bendungan, dan lainnya untuk mencegah banjir. Termasuk di Jakarta. Yasril Y. Rasyid juga mengatakan jika dilihat usaha pemerintah ada perbaikan di sana sini, dia memperkirakan bisa terjadi penurunan klaim asuransi banjir di tahun ini. Tapi juga harus diperhatikan juga prediksi BMKG soal curah hujan ke depan seperti apa. (liputan6.com)

Untuk lebih jelasnya Anda bisa mendownload lampiran tarif premi asuransi OJK 2015 disini. Sumber lampiran: Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Baca Juga: Cara Menghitung Premi Asuransi